Pernah gak sih kamu merasa liquid rasanya hambar atau bahkan gosong? Jangan langsung menyalahkan liquid, karena bisa jadi masalahnya pada bahan pemilihan coil yang kurang tepat.
Menemukan kombinasi yang pas buat vaping tidak hanya pada liquid, tapi juga pada coil yang ada dalam perangkat vape. Bahan material pada coil sangat menentukan seberapa cepat panas dihantarkan dan seberapa tebal uap yang akan dihasilkan.
Untuk mendapatkan performa yang tinggi, kamu perlu mengetahui dan memilih bahan coil vape terbaik, agar daily vaping kamu anti drama. Baca artikel ini sampai tuntas supaya kamu mendapatkan informasi panduan memilih dan cara merawat bahan coil!
Fungsi Coil dalam Vape
Coil dalam vape berfungsi sebagai pemanas, yang nantinya akan mengubah liquid menjadi uap dan rasa ketika dihirup. Dalam sistem kerja vape, coil bertindak sebagai jembatan yang baterai dengan liquid.
Tak hanya itu, coil juga memiliki tugas untuk menghubungkan baterai dengan atomizer sehingga dapat menghantarkan panas untuk mengubah liquid menjadi uap. Material coil memiliki hambatan listrik, hambatan inilah yang membuat kawat panas dalam waktu singkat.
Saat kamu menekan firing, baterai akan mengirimkan daya listrik langsung menuju coil. Selain berperan sebagai penghubung, coil juga mengatur proses pembakaran liquid. Jika diibaratkan kendaraan, coil ini seperti mesinnya karena resistensi dan jenis coil berpengaruh dalam menentukan rasa dan kebulan yang keluar.
Oleh karena itu, seluruh sistem vape tidak akan berjalan dan liquid di dalamnya tidak akan bisa kamu nikmati saat coil tidak berfungsi dengan baik.
Jika kamu merasa uap menurun atau ada rasa gosong artinya coil kamu bermasalah. Oleh karena itu, vapers perlu mengecek atau mengganti dengan coil yang baru apabila perlu.
Bahan Coil Vape
Untuk menjaga performa device vape, kamu juga perlu mengetahui dan memperhatikan bahan coil vape yang digunakan di device vape kamu, antara lain:
1. Kanthal
Kanthal coil adalah coil yang paling populer dan umum digunakan. Kawat klasik yang terkenal memiliki daya tahan (durability) yang sangat baik. Kanthal terkenal sebagai bahan coil vape terbaik karena kualitasnya.
Terbuat dari perpaduan zat besi, kromium, dan aluminum, bahan coil kanthal ini mampu bertahan pada suhu tinggi hingga melampaui batas. Kanthal cocok buat kamu yang menggunakan wattage mode standar.
Kelebihan Kanthal: Menggunakan bahan yang melampaui stainless steel, terbuat dari bahan yang tahan panas, jadi bisa menghasilkan suhu tinggi, dan harganya relatif terjangkau dan tersedia di seluruh vape store.
Kekurangan Kanthal: Karena memiliki bahan yang cukup tebal, sehingga memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk menghantarkan panas daripada bahan Nichrome. Kanthal juga menghasilkan rasa yang cenderung netral dan tidak terlalu memperjelas detail rasa.
2. Nichrome
Bahan jenis Nichrome ini banyak digunakan karena memiliki respons pemanasan yang cepat (ramp up time singkat). Nichrome sendiri adalah perpaduan antara nikel dan kromium.
Menjadi bahan favorite produsen prebuild coil modern. Terdapat dua varian yang populer dan dapat kamu jumpai di pasaran yaitu Ni80 (80% nikel dan 20% kromium).
Kelebihan Nichrome: Ramp-up time yang sangat cepat, sehingga cepat dalam menghantarkan panasnya. Saat tombol fire ditekan langsung menghasilkan uap secara instan. Bahan ini mampu menghasilkan rasa manis dan detail liquid yang lebih tebal.
Kekurangan Nichrome: Kawat mudah putus saat kamu membersihkan coil terlalu ekstrem karena memiliki penghantar panas yang cepat. Hal ini menimbulkan kemerahan saat dilakukan dry burn. Kamu juga harus berhati-hati jika memiliki alergi nikel karena dapat menyebabkan iritasi kulit.
3. Stainless Steel
Memiliki materi yang fleksibel sehingga bisa digunakan untuk mode watt biasa maupun temperature control. Stainless steel adalah material dengan satu-satunya bahan kawat yang bersifat hibrida.
Kelebihan Stainless Steel : Kelebihan coil berbahan stainless steel adalah multifungsi, kompatibel dengan berbagai mode di mod vape. Bahan stainless steel memiliki ramp-up yang cepat, mampu menghasilkan flavour liquid yang bersih, dan mempertahankan flavour asli liquid.
Kekurangan Stainless Steel : Bahan stainless steel ini cenderung lebih lentur dibanding Kanthal sehingga membutuhkan ketelitian ekstra saat memasang kapas dan mengatur posisi coil agar lilitannya tidak mudah berubah bentuk.
4. Titanium
Titanium adalah kawat yang terbuat dari logam titanium murni, dari material khusus yang umumnya digunakan untuk mode temperature control. Dilarang menggunakan bahan ini pada mode watt biasa.
Kelebihan Titanium: Akurasi kontrol suhu yang baik karena sangat sensitif terhadap perubahan suhu, sehingga dapat memberikan proteksi terbaik supaya kapas tidak gosong. Bahan ini mampu menghasilkan rasa liquid yang konsisten dan stabil.
Kekurangan Titanium: Terbuat dari bahan titanium jika dipanaskan secara berlebihan dapat melepaskan zat beracun berupa Titanium Dioksida yang berbahaya jika terhirup. Kawat ini lebih sulit untuk ditemukan di pasaran.
5. Mesh
Mesh adalah lembaran jaring-jaring logam tipis berlubang mikro. Biasanya bahan ini terbuat dari kanthal, Ni80, atau SS. Mesh coil diaplikasikan dalam bentuk lembaran datar untuk melapisi kapas secara merata.
Kelebihan Mesh: Menghantarkan panas yang merata, sehingga liquid dapat menguap secara rata dan bersama. Dapat menghasilkan uap yang tebal dan sensasi rasa manis yang kuat. Karena panasnya merata sehingga mampu mengurangi penumpukan kerak liquid. Ini mampu memperpanjang umur pemakaian coil.
Cara Memilih Bahan Coil
Memilih bahan coil sangat penting untuk memastikan kualitas dan efisiensi produk. Beberapa faktor yang bisa kamu pertimbangkan saat memilih coil, antara lain:
- Pilih bahan Kanthal, jika kamu mengutamakan ingin bahan kawat yang awet, dan tidak suka rasa yang terlalu manis.
- Pilih Nichrome, kalau kamu suka flavour yang tebal, dan manis. Jika menggunakan nichrome, pasang mode watt biasa pada perangkat kamu.
- Pilih Stainless Steel, buat kamu yang suka eksperimen dengan fitur dan suka rasa liquid yang bersih.
- Pilih bahan Mesh, kalau kamu menggunakan pod atau sub ohm tank modern, yang suka uap tebal dan rasa liquid yang bold.
Supaya tidak memahami bahannya saja, gali juga informasi tentang jenis, ukuran dan harga lengkap dari coil vape.
Tips Merawat Coil
Kerusakan pada coil sering terjadi karena pengguna tidak merawatnya dengan benar. Berikut ini adalah tips merawat coil:
1. Setting Watt Sesuai Rekomendasi Coil
Menggunakan watt yang terlalu tinggi akan membuat kawat menjadi terlalu panas dan membakar kapas. Begitupun sebaliknya, watt yang terlalu rendah membuat liquid tidak menghasilkan uap dengan sempurna dan dapat memicu penumpukan kerak.
2. Hindari Dry Hit
Perhatikan volume liquid pada tank. Jangan menunggu habis tak tersisa kemudian refill. Setelah mengganti kapas atau cartridge baru, diamkan selama 10-15 menit supaya meresap sempurna. Lakukan supaya tidak mengalami dry hit.
3. Bersihkan Coil
Bersihkan coil secara berkala, cuci coil minimal satu bulan sekali atau lebih sering mengikuti kebiasaan vaping kamu. Membersihkan coil berperan untuk menghindari penumpukan kerak liquid.
4. Hindari Liquid Terlalu Manis
Pemanis liquid yang tidak bisa menguap seluruhnya maka akan meninggalkan karamelisasi pada kawa sehingga menimbulkan kerak. Kalau kamu sering menggunakan liquid yang manis, maka juga harus sering mengganti coil.
5. Ganti Kapas Rutin
Kapas yang kotor bisa menyebabkan coil cepat terbakar, rutin mengganti kapas satu minggu sekali, atau jika kamu vaping secara intens, maka ganti lebih sering.
Jenis coil vape menentukan bahan yang digunakan, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk menjaga performa perangkat dan kualitas dari coil kamu. Pastikan kamu mengetahui bahan apa yang pas dan mencari coil yang cocok dengan selera vaping kamu.
Share artikel ini ke teman-teman vaping kamu, supaya mereka tidak salah pilih bahan coil vape!
Baca juga:



