Lagi berdiri di depan etalase vape store, tapi bingung mau ambil cartridge yang 0.6 atau 0.8 ohm? Banyak vapers yang bingung perbedaan coil 0.6 dan 0.8. Tenang kamu gak sendirian.
Memilih cartridge seringkali membutuhkan pertimbangan yang matang saat memilih perangkat vaping karena coil pada cartridge dapat menentukan hasil selama kamu vaping.
Baik coil 0.6 maupun 0.8, keduanya memiliki fungsi yang berbeda, yang satu perform pada uap yang tebal dan satunya lagi memberikan rasa yang smooth. Kalau kamu masih bingung mau pilih yang mana, simak artikel ini sampai tuntas, karena akan menjawab kebingunganmu!
Apa Itu Resistensi pada Coil ?
Resistensi adalah ukuran besar hambatan yang diberikan oleh coil dalam cartridge terhadap arus listrik yang mengalir. Komponen ini berfungsi seperti keran yang mengatur aliran air.
Semakin kecil angkanya semakin sedikit hambatan yang terjadi, sehingga arus listrik yang dialirkan semakin besar. Begitu juga semakin besar angka ohmnya, semakin kuat hambatan yang diberikan. Membuat arus listrik mengalir lebih kecil.
Nah, coil dengan ohm atau resistensi berapa yang harus kamu pilih? Simak dulu perbedaan coil 0.6 dan 0.8 setelah ini!
Perbedaan Coil 0.6 dan 0.8 pada Cartridge Pod
Pastikan poin-poin berikut sebelum membeli, berikut perbedaan coil 0.6 dan 0.8 ohm pada cartridge:
1. Resistensi Coil
Semakin kecil angka ohm semakin kecil pula hambatan listriknya. Coil 0.6, memiliki resistensi yang relatif kecil, hambatan listrik yang terjadi juga lebih kecil. Sehingga, arus listrik dari baterai dapat mengalir lebih besar.
Sedangkan, coil 0.8 memiliki resistensi lebih besar, begitupun hambatan atau aliran listrik yang dihasilkan jadi lebih besar. Ini membuat arus listrik tertahan daripada 0.6 Ohm.
2. Watt
Perbedaan resistensi membuat daya yang dibutuhkan untuk masing-masing coil berbeda juga. 0.6 Ohm membutuhkan output daya lebih besar sekitar 18-25 Watt. untuk memanaskan kawat yang lebih tebal di dalamnya.
0.8 Ohm membutuhkan daya lebih ringan dan bekerja optimal pada watt lebih rendah, antara 12-16 Watt. Pada coil 0.8 Ohm ini tidak memerlukan daya yang besar untuk menghasilkan panas.
Kombinasi settingan watt pada resistensi coil tertentu umumnya sudah tertera di cartridge. Vapers bisa melihat di cartridge TRML T28 berikut ini

3. Produksi Uap dan Rasa Liquid
Coil 0.6 Ohm mampu menghasilkan uap yang tebal. Coil ini cocok menggunakan liquid freebase dengan VG tinggi karena mampu memecah layer rasa liquid.
Sedangkan, coil 0.8 Ohm menghasilkan uap lebih tipis. Namun, dapat memberikan rasa yang smooth dan fokus pada rasa dari liquid. Coil 0.6 ohm cocok buat kamu yang lebih suka could ringan dan pemakaian jangka panjang.
4. Konsumsi Baterai
0.6 Ohm membutuhkan Watt yang tinggi, karena mengajak device kamu untuk bekerja lebih keras dan habis lebih cepat. Jadi coil dengan 0.6 ohm cenderung lebih boros baterai.
Sementara coil 0.8 Ohm lebih menghemat baterai, karena konsumsi dayanya lebih rendah. Membuat daya tahan baterai pod dapat bertahan lebih lama untuk daily vaping kamu.
5. Sensasi Nikotin
Coil 0.6 Ohm memberikan nikotin yang lebih kuat dan instan karena uap yang dihasilkan banyak. Jika menggunakan salt nic dengan kadar tinggi pada coil ini bisa bikin kamu pusing hingga overdosis nikotin.
Coil 0.8 Ohm menghasilkan nikotin yang lebih smooth, pas, dan stabil saat memakainya seperti menggunakan metode Mouth To Lung atau rokok konvensional.
6. Ketahanan Baterai
Ketahanan baterai berpengaruh juga dari resistensi. Coil 0.6 Ohm memiliki umur pakai yang sedikit lebih pendek saat kamu menggunakan liquid yang cenderung manis dengan watt yang maksimal.
Sementara itu, coil 0.8 Ohm dapat bertahan lebih lama dalam penggunaannya sehari-hari saat kamu menggunakan pada watt yang rendah sesuai dan menggunakan liquid salt nic yang tidak terlalu manis dan kental
Tips Memilih Resistensi Coil pada Cartridge
Supaya tidak salah pilih antara coil 0.6 dan 0.8, berikut ini adalah tips memilih resistensi coil pada cartridge:
1. Sesuaikan Resistensi dengan Selera Kamu
Tips pertama memilih resistensi coil yang pertama adalah sesuaikan dengan gaya vaping dan jenis liquid yang kamu gunakan. Pilih coil 0.6 dengan resistensi kecil kalau kamu suka uap yang tebal dan rasa manis yang bold.
Tapi pilih 0.8 dengan resistensi yang lebih tinggi, jika kamu suka gaya MTL (Mouth to Lung) seperti gaya merokok. Pilih saja sesuai selera agar nyaman digunakan untuk daily vaping.
2. Pilih Berdasarkan Jenis Liquid
Jika menggunakan liquid freebase atau karakter liquid yang kental, kamu bisa memilih coil 0.6 Ohm. Kalau kamu menggunakan liquid salt nicotine, pilih coil 0.8 Ohm untuk digunakan.
3. Daya Tahan Baterai
Pilih 0.6 Ohm jika kamu ingin kualitas dengan uap yang tebal. Namun, siap boros baterai dan akan sering charging. Coil 0.8 Ohm bisa jadi pilihanmu kalau kamu tipikal yang suka hemat dan pemakaian jangka panjang untuk aktivitas sehari-hari.
4. Hindari Nikotin Tinggi di Cartridge yang Resistansinya Rendah
Kalau kamu suka pilih liquid dengan nikotin yang tinggi, hindari resistensi rendah. Hal ini mencegah sakit pada tenggorokan dan dapat menyebabkan coil cepat gosong.
5. Berdasarkan Gaya Isapan
Kalau gaya vaping kamu RDL (Restricted Direct Lung) tarikan langsung ke paru-paru coil 0.6 Ohm cocok buat kamu. Tapi, kalau mau tipe yang MTL (Mouth to Long), ini pas buat kamu mantan perokok karena gaya vapingnya mirip merokok konvensional.
Perbandingan coil 0.6 dan 0.8 tidak hanya dari resistensi, tapi juga kualitas dan performa yang diberikan. Resistensi rendah mampu mempercepat proses device sehingga menghasilkan uap yang tebal dan menambah gay vaping lebih nendang.
Sementara, resistensi tinggi, memiliki hambatan yang tinggi juga, meskipun menghasilkan uap yang lebih ringan. Coil ini mampu memberikan rasa yang lebih smooth.
Dengan mengetahui perbedaan coil 0.6 dan 0.8 dan melihat tips memilih resistensi coil, kamu bisa menentukan coil dengan resistansi mana yang paling pas buat kamu.
Merasa relate dengan artikel ini? Yuk, share juga ke teman-teman kamu agak mereka tidak salah pilih resistensi coil pada cartridge!
Baca juga:



